Rabu, 26 Oktober 2016

pengertian klasifikasi.
Klasifikasi adalah suatu cara pengelompokan yang didasarkan pada ciri-ciri tertentu. Semua ahli biologi menggunakan suatu sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tumbuhan ataupun hewan yang memiliki persamaan struktur. Kemudian setiap kelompok tumbuhan ataupu hewan tersebut dipasang-pasangkan dengan kelompok tumbuhan atau hewan lainnya yang memiliki persamaan dalam kategori lain.
Perkembangan Media Pembelajaran
Pada awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian bertambah dengan adanya buku. Pada masa itu kita mengenal tokoh bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah. Buku tersebut berjudul Orbis Sensualium Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1657. Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dasar bahwa tidak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan. Dari sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat meberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagi siswa melalui semua indera, terutama indera pandang – dengar.
Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman kongkrit, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap atau retensi belajar. Namun karena terlalu memusatkan perhatian pada alat bantu visual kurang memperhatikan aspek disain, pengembangan pembelajaran (instruction) produksi dan evaluasinya. Jadi, dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar abad ke-20, alat visual untuk mengkongkritkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal dengan audio visual atau audio visual aids (AVA) . Untuk memahami peranan media dalam proses mendapatkan pengalaman belajar bagi siswa, Edgar Dale melukiskannya dalam sebuah kerucut yang kemudian dinamakan Kerucut Pengalaman Edgar Dale (Edgar Dale cone of experience).
Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, yang berguna sebagai penyalur pesan atau informasi belajar.
Pada tahun 1960-1965 orang-orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah-laku (behaviorism theory) dari B.F Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam pembelajaran. Dalam teorinya, mendidik adalah mengubah tingkah-laku siswa. Teori ini membantu dan mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah-laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran.
Pada tahun 1965-1970 pendekatan system (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan system ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran. Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada siswa.

Perkembangan Media Pembelajaran


Bentuk interaksi antara pebelajar dan media merupakan komponen penting untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Komponen ini penting karena uraian mengenai strategi penyampaian tidaklah lengkap tanpa memberi gambaran tentang pengaruh apa yang dapat ditimbulkan oleh suatu media pada kegiatan belajar.
Drs. A. A. Gede Agung, M.Pd.

PENGERTIAN
Menurut kamus besar bahasa indonesia, pengertian media adalah alat atau sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk. Media disebut juga alat-alat audio visual, artinya alat yang dapat dilihat dan didengar yang dipakai dalam proses pembelajaran dengan maksud untuk membuat cara berkomunikasi lebih efektif dan efisien. Dengan penggunaan alat-alat ini guru/pendidik dan siswa/peserta didik dapat berkomunikasi lebih hidup serta interaksinya bersifat multi arah. Media adalah alat yang dapat membantu proses pembelajaran yang berfungsi memperjelas makna pesan yang disampaikan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dngan lebih baik, lebih sempurna.
Media mengandung pesan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhkan motivasi belajar, sehingga siswa/peserta didik tidak menjadi bosan atau cepat jenuh dalam meraih tujuan-tujuan belajar. Apapun yang disampaikan oleh guru/pendidik sebaiknya menggunakan media, paling tidak yang digunakannya adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan di hadapan siswa/peserta didik. Pendidikan melalui media visual adalah metode/cara untuk memperoleh pengertian yang lebih baik dari sesuatu yang dapat dilihat dari pada sesuatu yang didengar atau dibacanya. Media pembelajaran mencakup semua sumber yang diperlukan dalam melakukan komunikasi dengan pebelajar. Ini bisa berupa perangkat keras, seperti komputer, televisi, projektor, dan perangkat lunak yang digunakan pada perangkat keras itu. Pengajar juga termasuk media pembalajaran merupakan bagian dari kajian strategi penyampaian.

KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN
Sekurang-kurangnya ada lima cara dalam mengklasifikasi media pembelajaran yakni: tingkat kecermatan representasi, tingkat interaksi, tingkat kemampuan khusus, tingkat pengaruh motivasional, dan  tingkat biaya diperlukan.
Tingkat Kecermatan Representasi
Suatu media bisa diletakkan dalam suatu garis kontinum, seperti: benda dengar, seperti radio, kaset tape; media pandang-dengar, seperti film bersuara; media pandang, seperti gambar atau diagram; media dengar, seperti rekaman suara dan simbol-simbol tertulis. Bagaimanapun juga, kontinum ini bisa bervariasi untuk suatu pembelajaran. Misalnya, pembelajaran untuk suatu konser musik memiliki variasi kontinum yang berbeda menurut tingkat kecepatan reprsentasinya.
Bruber mengemukakan bahwa suatu pembelajaran harus bergerak dari pengalaman langsung ke representasi ikonik (seperti dalam gambar dan film), dan selanjutnya ke representasi simbolik (seperti kata atau sinbol-simbol lain). Banyak pebelajar telah melihat berbagai aspek bagaimana cara pengaspalan jalan raya. Mereka melihat banyak kendaraan pengangkut bahan seperti batu dan pasir, juga cara menata batu, serta ukurannya, cara membakar aspal dan menuangkannya ke atas batu yang telah ditata, bagaimana alat-alat besar lainnya.
Mereka sering mendapat pengalaman ini secara terpisah-pisah. Hal itu berarti bahwa mereka perlu memiliki pengalaman yang terintegrasi yang menggambarkan bagaimana cara pembangunan jalan raya. Media film tentang pembutan jalan raya akan dapat mengintegrasikan semua tahapan ini sehingga pengalaman-pengalaman mahasiswa/ peserta didik yang terpisah-pisah tadi terintegrasi ke dalam suatu abtraksi yang bermakna.
Tingkat Interaksi
Hal yang mampu ditimbulkan oleh suatu media yang juga dapat dibentangkan dalam suatu kontinum, tetapi titik-titik dalam kontinum itu ditunjukkan oleh jenis media yang berbeda seperti: komputer, pengajar, buku kerja, buku teks/rekaman, dan siaran radio/ televisi. Media-media ini juga mempunyai kemampuan menyajikan berbagai media yang telah dikemukakan sebelumnya. Misalnya, pengajar dapat menyajikan semua media dari benda kongkrit sampai simbol-simbol verbal. Buku kerja dapat menyajikan gambar, diagram, serta simbol-simbol tertulis. Juga dimungkinkan untuk menggunakan media secara terkombinasi, seperti buku kerja dengan film atau benda kongkrit pula sedang bekerja di lab, atau buku kerja dikombinasi dengan buku teks atau radio, atau juga simbol-simbol tertulis dengan film atau benda-benda konkrit. Kombinasi-kombinasi lainpun dapat diciptakan untuk keperluan suatu pembelajaran.
Tingkat Kemampuan Khusus
Sesuatu yang dimiliki oleh suatu media juga dapat dipakai untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Tiap media dari berbagai media yang telah dibicarakan di atas, baik dari kontinum tingkat kecermatan maupun tingkat interaktifnya, dapat diidentifikasi karakteristik khusus yang dimilikinya. Karakteristik khusus yang dimaksud adalah kemampuannya dalam menyajikan sesuatu yang tidak dapat disajikan oleh media lain. Media-media yang mempunyai kemampuan khusus inilah yang amat berpengaruh dalam menetapkan strategi penyampaian.
Kemampuan-kemampuan khusus suatu media bisa dilihat dari kecepatannya dalam menyajikan sesuatu, seperti film tentang pembangunan jalan raya akan lebih cepat memberi gambaran tentang bagaimana tahapan pembuatan jalan raya, dibandingkan dengan mengamati langsung ke lokasi yang memakan waktu lama sampai jalan itu selesai. Kemampuan simulatif, seperti dalam simulator terbang yang memungkinkan seorang pilot dapat mendaratkan sebuah pesawat sepuluh kali dalam satu jam tanpa harus lepas landas lagi setiap kali akan mengambil posisi mendarat berikutnya.
Kemampuan-kemampuan khusus juga sering dimiliki oleh media-media yang tingkat kecepatan representasinya rendah. Media rekaman, umpamanya, tidak terikat oleh waktu dan ruang. Media ini tingkat kecermatan rendah tetapi ia memiliki kemampuan khusus untuk menyajikan sesuatu yang sudah berlalu dan tak dapat diulang.
Tingkat Pengaruh Motivasional
Media juga penting artinya untuk keperluan mempreskripsikan strategi penyam-paian. Namun pengaruh motivasional ini sering kali amat bervariasi sejalan dengan perbedaan perseorangan. Umpamanya, seorang pengajar, sebagai media belajar, dapat bertindak sebagai motivator bagi seorang pebelajar, tetapi pada saat yang sama, ia justru munghancurkan motivasi belajar pebelajar lain.
Suatu media pembelajaran bisa memberi pengaruh motivasi berbeda. Perbedaan ini lebih banyak dapat dikaitkan dengan perbedaan karakteristik pebelajar. Makin dekat kesamaan karakteristik pebelajar dengan media yang dipakai, maka makin tinggi pengaruh motivasional yang bisa ditimbulkan oleh media itu. Di samping interaksinya dengan karakteristik pebelajar, media juga dapat berinteraksi dengan tipe isi bidang studi dalam menentukan pengaruh motivasionalnya. Tipe isi konsep lebih tepat didekati oleh media benda konkrit, atau gambar serta diagram, sedangkan untuk tipe isi prosedural, film bersuara yang menunjukkan prosedur-prosedur yang sedang dipelajari akan dapat menimbulkan pengaruh motivasional yang tinggi.  
Tingkat Biaya Diperlukan
Dalam menyampaikan suatu media juga penting untuk mengekspresikan strategi penyampaian. Mulai dari perencanaan sampai pada pembuatannya, kalau media dikembangkan sendiri. Jika ingin menggunakan media siap pakai, tidaklah mahal, namun apakah memadai jika dibandingkan dengan keseluruhan strategi penyampaian yang akan dipakai? Nilai dari suatu strategi penyampaian dapat ditafsirkan dari jenis dan satuan media yang dipakai. Bagaimanapun juga, makin tepat dan lengkap media yang dipakai, makin besar keefektifan dari strategi penyampaian itu.
Interaksi Pebelajar dengan Media Pembelajaran
Bentuk interaksi antara pebelajar dan media merupakan komponen penting kedua untuk mempreskripsikan strategi penyampaian. Komponen ini penting karena uraian mengenai strategi penyampaian tidaklah lengkap tanpa memberi gambaran tentang pengaruh apa yang dapat ditimbulkan oleh suatu media pada kegiatan belajar. Itulah sebabnya komponen ini lebih menaruh perhatian pada kajian mengenai kegiatan belajar apa yang dilakukan dan bagaimana peranan media untuk merangsang kegiatan-kegiatan itu.
Kegiatan belajar yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan khusus yang telah ditetapkan banyak sekali ragamnya. Mulai dari kegiatan paling dasar, seperti membaca, mendengarkan, menulis, sampai kegiatan-kegiatan yang jauh lebih kompleks yang mengintegrasikan kegiatan-kegiatan dasar tersebut, seperti mengerjakan tugas, sajian kelas, membuat laporan, diskusi, dan seterusnya.
Tersedianya media penting sekali untuk merangsang kegiatan belajar pebelajar. Kehadiran pengajar untuk mengarahkan kegiatan belajar, buku teks, sebagai sumber informasi; proyektor, untuk menampilkan film, dan media-media lain, amat diperlukan  untuk merangsang kegiatan belajar. Interaksi antara pebelajar dengan media inilah yang sebenarnya merupakan wujud nyata dari tindak belajar. Hal belajar terjadi dalam diri pebelajaran ketika mereka berinteraksi dengan media lain, karena itu, tanpa media belajar tidak akan pernah terjadi.
Struktur Pembelajaran
Penyampaian pembelajaran menggunakan media dapat di selenggarakan dalam kelas besar. Kegiatan belajar yang dilakukan sering kali lebih banyak tergantung pada rangsangan pengajar. Penyampaian pembalajaran dalam kelas besar menurut penggunaan jenis media berbeda dari kelas kecil. Demikian juga untuk pembelajaran perseorangan dan belajar mandiri.
FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
Sebagai komponen sistem pembelajaran, media memiliki fungsi yang berbeda dengan fungsi komponen-komponen lainnya, yaitu sebagai komponen yang dimuati pesan pembelajaran untuk disampaikan kepada pebelajar. Pada proses penyampaian pesan ini sering kali terjadi gangguan yang mengakibatkan pesan pembelajaran tidak di terima oleh pebelajar seperti apa yang dimaksudkan oleh pengajar. Gangguan-gangguan komunikasi antar pengajar-pebelajar ini kemungkinan disebabkan oleh verbalisme.
Verbalisme terjadi apabila seseorang hanya tahu kata yang mewakili suatu objek, tetapi tidak mengetahui objeknya. Atau, seorang tahu nama konsep, tetapi tak tahu susbtansi konsepnya. Vebralisme bisa terjadi kalau dalam proses interaksi pembelajaran hanya melibatkan media verbal sehingga pebelajar cenderung hanya meniru apa yang dikatakan pengajar tanpa mengetahui maknanya. Keadaan seperti ini berpotensi untuk mengganggu interaksi pembelajaran karena apa yang dimaksud oleh pengajar bisa ditafsirkan lain oleh pebelajar.
Salah tafsir jelas sekali dapat mengganggu proses penyampaian pesan-pesan pembelajaran. Ini bisa terjadi bila istilah-istilah yang dimunculkan dalam proses penyampaian pesan itu tak dipahami sama oleh penyampaian pesan dan penerima pesan. Perhatian yang tak terpusat atau ganda sering dapat diajukan sebagai sebab terganggunya proses komunikasi. Gangguan perhatian muncul karena prosedur penyampaian pesan yang membosankan atau karena perhatian pebelajar lebih tertarik pada hal-hal yang diluar pesan yang sedang disampaikan. Gangguan proses komunikasi juga dapat terjadi karena terbentuknya presepsi yang keliru tentang suatu objek, peristiwa, atau gejala. Gangguan ini biasanya disebabkan oleh kurangnya variasi media yang dilibatkan dalam proses komunikasi tersebut.
Disamping empat butir penyebab gangguan proses komunikasi, masih ada butir lain yang juga berpotensi secara langsung dalam menentukan tingkat gangguan yang bisa dihasilkannya, yaitu kondisi lingkungan dimana komunikasi itu berlangsung. Tata ruang, tata suara, tata fasilitas amat menentukan kualitas penyampaian pesan, dan semua butir ini sangat terkait dengan media apa yang dilibatkan dalam penyampaian pesan.
Kunci pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan gangguan proses penyampaian pesan pembelajaran ini terletak pada media yang dipakai dalam proses itu. Pemilihan media yang tepat, sesuai dengan keistimewaan yang dimilikinya, akan memperkecil gangguan-ganguan tersebut. Secara umum, media-media tertentu memiliki keistimewaan-keistimewaan sebagai berikut.
Kemampuan Fiksatif
Kemampuan fiskatif yaitu media yang memiliki kemampuan untuk menangkap, menyimpan, dan kemudian menampilkan kembali suatu objek atau kejadian. Dengan kemampuan ini berarti suatu objek atau kejadian dapat digambar, dipotret, difilmkan, atau direkam kemudian dapat disimpan lama dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan lagi dan diamati kembali seperti kejadian aslinya.
Kemampuan Manipulatif
Kemampuan manipulatif artinya kemampuan media untuk menampilkan kembali objek atau kejadian dengan berbagai macam cara disesuaikan dengan keperluannya. Maksudnya, penampilan suatu objek atau kejadian dapat diubah-ubah ukurannya, kecepatannya serta diulang-ulang penampilannya.
Kemampuan Distributif
Kemampuan distributif adalah kemampuan media dalam sekali penampilan suatu objek atau kejadian dapat menjangkau pengamat yang sangat banyak, misalnya dengan penggunaan media TV atau radio.
Dilihat dari keistimewaan-keistimewaan yang dimilikinya, media mempunyai fungsi yang jelas untuk menghindari atau memperkecil gangguan komunikasi penyampaian pesan pembelajaran. Secara garis besar fungsi media dapat dikemukakan seperti berikut ini.
  •  menghindari terjadinya verbalisme.
  •  membangkitkan minat dan motivasi
  •  menarik perhatian pebelajar
  •  mengatasi keterbatasan: ruang, waktu dan ukuran
  •  mengaktifkan mahasiswa/peserta didik dalam kegiatan belajar
  •  mengaktifkan pemberian rangsangan untuk belajar.
Secara lebih terperinci fungsi media dalam proses pembelajaran dapat dikemukakan berikut ini.
  • media memungkinkan pebelajar menyaksikan benda/peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan perantaraan gambar, potret, slide, film dan sebagainya, pebelajar dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang peristiwa/benda bersejarah.
  • media memungkinkan pebelajar mengamati peristiwa/benda yang sukar dikunjungi, baik karena tempatnya jauh atau karena berbahaya atau terlarang, misalnya film tentang kehidupan harimau di hutan, keadaan dan kesibukan di pusat reaktor nuklir dan sebagainya.
  • media memungkinkan pebelajar untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang banda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung karena ukurannya yang tidak memungkinkan, baik karena terlalu besar atau terlalu kecil misalnya, dengan perantaraan TV mahasiswa/peserta didik dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bedungan atau kompleks pembangki listrik, dengan slide atau film pebelajar dapat memperoleh gambaran tentang bakteri, amoeba dan sebagainya.
  • media memungkinkan pebelajar mendengar suara yang sukar ditangkap telinga secara langsung, misalnya, rekaman denyut jantung dan sebagainya.
  • media memungkinkan pebelajar mengamati dengan teliti binatang-binatang yang sukar diamati secara langsung karena sukar ditangkap. Dengan bantuan gambar, potret, slide, film atau rekaman, pebelajar dapat mangamati berbagai macam serangga, burung hantu, kelelawar dan sebagainya.
  • media memungkinkan pebelajar dapat mengamati dengan jelas benda-benda yang mudah rusak/sukar diawetkan. Dengan menggunakan model/benda tiruan mahasiswa/peserta didik dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang organ-organ tubuh, jantung, paru-paru dan sebagainya.
  • media memungkinkan pebelajar dapat mengamati peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi atau bahaya didekati. Dengan film, slide, vidio cassette pebelajar dapat mengamati pelangi, gunung meletus, perang, dan lain sebagainya.
  • media memungkinkan pebelajar dengan mudah membandingkan sesuatu. Dengan bantuan gambar, foto atau model pebelajar dapat dengan mudah membandingkan dua benda yang berbeda sifat, ukuran, ataupun bentuknya.
  • media dapat memperlihatkan secara cepat proses yang berlangsung secara lambat. Denga media film proses perkembangan katak dari telur mejadi katak, hanya ditunjukkan dalam beberapa menit. Demikian pula, bunga dari kuncup sampai mekar, dapat ditunjukkan film dalam beberapa detik saja.
  • media dapat memperlihatkan secara lamban gerakan-gerakan yang berlangsung amat cepat. Media film  dapat memperlihatkan gerakan lompat tinggi, salto, dan sebagainya secara lambat, bahkan dapat juga dihentikan, jika perlukan untuk mengamati secara teliti.
  • media mempermudah pebelajar mengamati gerakan-gerakan mesin/alat yang sukar diamati secara langsung. Dengan film dapat dengan mudah mengamati jalanya mesin motor empat tak, dan sebagainya.
  • media memungkinkan menunjukkan bagian-bagian yang tersembunyi dari benda/alat. Dengan diagram, bagan dapat ditunjukkan bagian-bagian mesin yang sukar diamati secara langsung.
  • media dapat menyajikan ringkasan dari suatu rangkaian pengamatan yang panjang/lama, misalnya setelah pebelajar mengamati proses penggilingan tebu pada suatu pabrik gula, kemudian diberi kesempatan untuk menyaksikan film yang menyajikan secara ringkas proses penggilingan tebu. Dengan demikian, maka gambaran yang diperoleh mahasiswa/peserta didik tentang proses penggilingan tebu akan lebih mantap dan jelas.
  • media memungkinkan dapat menjangkau sasaran yang besar jumlahnya. Dengan CCTV radio pendidikan, ratusan pebelajar dapat mengikuti pelajaran yang disajikan oleh seorang dosen dalam waktu yang sama.
  • media memungkinkan pebelajar dapat belajar dengan kemampuan, minat, dan temponya masing-masing. Dengan modul atau pembalajaran berprogram pebelajar dapat belajar sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.

PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN
Memilih media yang terbaik untuk tujuan pembelajaran bukan pekerjaan yang mudah. Pemilihan itu didasarkan pada beberapa faktor yang saling berhubungan seperti berikut.
  • seberapa jauh situasi dan latar belakang pekerjaan yang sebenarnya perlu ditiru dalam program pembelajaran?
  • media apa yang dianggap paling praktis untuk melaksanakan dan memperbaharui program pelatihan?
  • apakah diperlukan perlengkapan untuk menggunakan media yang dipilih itu, apakah pengadaan peralatan tertentu itu dapat dipertanggung-jawabkan untuk keperluan pelajaran yang bersangkutan?
  • apakah media itu sesuai dengan kebutuhan belajar pebelajar (ditinjau dari segi kebudayaan, usia, kebiasaan belajar) atau malah akan membingungkan mereka?
  • sejauh-manakah pencapaian pebelajar harus sesuai dengan sasaran yang telah ditentukan?
  • apakah nilai bahan pelajaran (perubahan tingkah laku yang diharapkan terjadi, jumlah pebelajar yang dilatih atau isi mata pelajaran) sepadan dengan biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan media itu?

Fakto-faktor dalam Pemilihan Media Pembelajaran
  • Tujuan: Media yang dipilih hendaknya menunjang pencapaian tujuan pembelajaran.
  • Ketepat-gunaan: Hendaknya dipilih ketepatan dan kegunaannya untuk menyampaikan pesan yang hendak dikomunikasikan/diinformasikan
  • Tingkat kemampuan siswa/peserta didik: Media yang dipilih hendaknya sesuai dengan tingkat kemampuan siswa/peserta didik, pendekatan terhadap pokok masalah, besar kecilnya kelompok atau jangkauan penggunaan media tersebut.
  • Biaya: Biaya yang dikeluarkan hendaknya seimbang dengan hasil yang diharapkan dan tergantung kemampuan dana yang tersedia.
  • Ketersediaan: Apakah media yang diperlukan tersedia atau tidak, apakah ada pengganti yang relevan, direncanakan untuk perorangan atau kelompok.
  • Mutu teknis: Kualitas media harus dipertimbangkan, jika media sudah rusak atau kurang jelas/terganggu sehingga mengganggu proses transfer informasi (tidak menarik, detail kurang bisa dipahami).

Prinsip dalam Pemilihan Media Pembelajaran
Ada beberapa prisip yang perlu dipertimbangkan pengajar dalam memilih dan menggunakan media pembelajaran, yaitu:
  • tidak ada suatu media yang paling unggul untuk semua tujuan, suatu media hanya cocok untuk tujuan pembelajaran tertentu, tetapi mungkin tidak cocok untuk yang lain.
  • media adalah bagian integal dari proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar pengajar saja, tetapi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari proses pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen yang lain dalam perencanaan intruksional. Tanpa alat bantu pembalajran mungkin pembalajaran dapat berlangsung, tetapi tanpa media pembalajaran itu takkan terjadi.
  • media apapun yang berhak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar mahasiswa/peserta didik. Kemudahan belajar mahasiswa/peserta didik haruslah dijadikan acuan utama dalam pemilihan dan penggunaan suatu media.
  • penggunaan berbagai media dalam suatu pembalajaran bukan hanya sekedar selingan/pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang menyatu dengan pembelajaran yang sedang berlangsung.
  • pemilihan media hendaklah objektif ( didasarkan pada tujuan pembelajaran), tidak didasarkan pada kesenangan pribadi.
  • penggunaan beberapa media sekaligus akan membingungkan mahasiswa/peserta didik. Penggunaan multi media tidak berarti media yang banyak sekaligus, tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang lain untuk tujuan yang lain pula.
  • kebaikan dan keburukan media tidak tergantung pada kekongkritan dan keabstrakannya. Media yang kongkrit ujudnya, mungkin sukar buntuk dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstak dapat pula memberikan pengertian yang tepat.
KLASIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dengan masuknya berbagai pengaruh ke dalam dunia pendidikan (misalnya teori/konsep baru dan teknologi), media pendidikan (pembelajaran) terus mengalami perkembangan dan tampil dalam berbagai jenis dan format, dengan masing-masing ciri dan kemampuannya sendiri. Dari sinilah kemudian timbul usaha-usaha untuk melakukan klasifikasi atau pengelompokan media, yang mengarah kepada pembuatan taksonomi media pendidikan/pembelajaran.
Usaha-usaha ke arah taksonomi media tersebut telah dilakukan oleh beberapa ahli. Rudy Bretz, mengklasifikasikan media berdasarkan unsur pokoknya yaitu suara, visual (berupa gambar, garis, dan simbol), dan gerak. Di samping itu juga, Bretz membedakan antara media siar (telecommunication) dan media rekam (recording). Dengan demikian, media menurut taksonomi Bretz dikelompokkan menjasi 8 kategori: 1) media audio visual gerak, 2) media audio visual diam, 3) media audio semi gerak, 4) media visual gerak, 5) media visual diam, 6) media semi gerak, 7) media audio, dan 8) media cetak.
Pengelompokan menurut tingkat kerumitan perangkat media, khususnya media audio-visual, dilakukan oleh C.J Duncan, dengan menyususn suatu hirarki. Dari hirarki yang digambarkan oleh Duncan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat hirarki suatu media, semakin rendah satuan biayanya dan semakin khusus sifat penggunaannya. Namun demikian, kemudahan dan keluwesan penggunaannya semakin bertambah. Begitu juga sebaliknya, jika suatu media berada pada hirarki paling rendah. Schramm (dalam Sadiman, dkk., 1986) juga melakukan pegelompokan media berdasarkan tingkat kerumitan dan besarnya biaya. Dalam hal ini, menurut Schramm ada dua kelompok media yaitu big media (rumit dan mahal) dan little media (sederhana dan murah). Lebih jauh lagi ahli ini menyebutkan ada media massal, media kelompok, dan media individu, yang didasarkan atas daya liput media.
Beberapa ahli yang lain seperti Gagne, Briggs, Edling, dan Allen, membuat taksonomi media dengan pertimbangan yang lebih berfokus pada proses dan interaksi dalam belajar, ketimbang sifat medianya sendiri. Gagne misalnya, mengelompokkan media berdasarkan tingkatan hirarki belajar yang dikembangkannya. Menurutnya, ada 7 macam kelompok media seperti: benda untuk didemonstrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar. Briggs mengklasifikasikan media menjadi 13 jenis berdasarkan kesesuaian rangsangan yang ditimbulkan media dengan karakteristik siswa. Ketiga belas jenis media tersebut adalah: objek/benda nyata, model, suara langsung, rekaman audio, media cetak, pembelajaran terprogram, papan tulis, media transparansi, film bingkai, film (16 mm), film rangkai, televisi, dan gambar (grafis).
Sejalan dengan perkembangan teknologi, maka media pembelajaran pun mengalami perkembangan melalui pemanfaatan teknologi itu sendiri. Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, Arsyad (2002) mengklasifikasikan media atas empat kelompok: 1) media hasil teknologi cetak, 2) media hasil teknologi audio-visual, 3) media hasil teknologi berbasis komputer, dan 4) media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Seels dan Glasgow (dalam Arsyad, 2002) membagi media ke dalam dua kelompok besar, yaitu: media tradisional dan media teknologi mutakhir. Pilihan media tradisional berupa media visual diam tak diproyeksikan dan yang diproyeksikan, audio, penyajian multimedia, visual dinamis yang diproyeksikan, media cetak, permainan, dan media realia. Sedangkan pilihan media teknologi mutakhir berupa media berbasis telekomunikasi (misal teleconference) dan media berbasis mikroprosesor (misal: permainan komputer dan hypermedia).
Dari beberapa pengelompokkan media yang dikemukakan di atas, tampaknya bahwa hingga saat ini belum terdapat suatu kesepakatan tentang klasifikasi (sistem taksonomi) media yang baku. Dengan kata lain, belum ada taksonomi media yang berlaku umum dan mencakup segala aspeknya, terutama untuk suatu sistem instruksional (pembelajaran). Atau memang tidak akan pernah ada suatu sistem klasifikasi atau pengelompokan yang sahih dan berlaku umum. Meskipun demikian, apapun dan bagaimanapun cara yang ditempuh dalam mengklasifikasikan media, semuanya itu memberikan informasi tentang spesifikasi media yang sangat perlu kita ketahui. Pengelompokan media yang sudah ada pada saat ini dapat memperjelas perbedaan tujuan penggunaan, fungsi dan kemampuannya, sehingga bisa dijadikan pedoman dalam memilih media yang sesuai untuk suatu pembelajaran tertentu.
KARAKTERISTIK BEBERAPA JENIS MEDIA PEMBELAJARAN
Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik tertentu, yang dikaitkan atau dilihat dari berbagai segi. Misalnya, Schramm melihat karakteristik media dari segi ekonomisnya, lingkup sasaran yang dapat diliput, dan kemudahan kontrolnya oleh pemakai (Sadiman, dkk., 1990). Karakteristik media juga dapat dilihat menurut kemampuannya membangkitkan rangsangan seluruh alat indera. Dalam hal ini, pengetahuan mengenai karakteristik media pembelajaran sangat penting artinya untuk pengelompokan dan pemilihan media. Kemp, 1975, (dalam Sadiman, dkk., 1990) juga mengemukakan bahwa karakteristik media merupakan dasar pemilihan media yang disesuaikan dengan situasi belajar tertentu.
Gerlach dan Ely mengemukakan tiga karakteristik media berdasarkan petunjuk penggunaan media pembelajaran untuk mengantisipasi kondisi pembelajaran di mana guru tidak mampu atau kurang efektif dapat melakukannya. Ketiga karakteristik atau ciri media pembelajaran tersebut (Arsyad, 2002) adalah: a) ciri fiksatif, yang menggambarkan kemampuan media untuk merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek; b) ciri manipulatif, yaitu kamampuan media untuk mentransformasi suatu obyek, kejadian atau proses dalam mengatasi masalah ruang dan waktu. Sebagai contoh, misalnya proses larva menjadi kepompong dan kemudian menjadi kupu-kupu dapat disajikan dengan waktu yang lebih singkat (atau dipercepat dengan teknik time-lapse recording). Atau sebaliknya, suatu kejadian/peristiwa dapat diperlambat penayangannya agar diperoleh urut-urutan yang jelas dari kejadian/peristiwa tersebut; c) ciri distributif, yang menggambarkan kemampuan media mentransportasikan obyek atau kejadian melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian itu disajikan kepada sejumlah besar siswa, di berbagai tempat, dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian tersebut.
Berdasarkan uraian sebelumnya, ternyata bahwa karakteristik media, klasifikasi media, dan pemilihan media merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penentuan strategi pembelajaran. Banyak ahli, seperti Bretz, Duncan, Briggs, Gagne, Edling, Schramm, dan Kemp, telah melakukan pengelompokan atau membuat taksonomi mengenai media pembelajaran. Dari sekian pengelompokan tersebut, secara garis besar media pembelajaran dapat diklasifikasikan atas: media grafis, media audio, media proyeksi diam (hanya menonjolkan visual saja dan disertai rekaman audio), dan media permainan-simulasi. Arsyad (2002) mengklasifikasikan media pembelajaran menjadi empat kelompok berdasarkan teknologi, yaitu: media hasil teknologi cetak, media hasil teknologi audio-visual, media hasil teknologi berdasarkan komputer, dan media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer. Masing-masing kelompok media tersebut memiliki karakteristik yang khas dan berbeda satu dengan yang lainnya. Karakteristik dari masing-masing kelompok media tersebut akan dibahas dalam uraian selanjutnya.
Media grafis. Pada prinsipnya semua jenis media dalam kelompok ini merupakan penyampaian pesan lewat simbul-simbul visual dan melibatkan rangsangan indera penglihatan. Karakteristik yang dimiliki adalah: bersifat kongkret, dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang masalah apa saja dan pada tingkat usia berapa saja, murah harganya dan mudah mendapatkan serta menggunakannya, terkadang memiliki ciri abstrak (pada jenis media diagram), merupakan ringkasan visual suatu proses, terkadang menggunakan simbul-simbul verbal (pada jenis media grafik), dan mengandung pesan yang bersifat interpretatif.
Media audio. Hakekat dari jenis-jenis media dalam kelompok ini adalah berupa pesan yang disampaikan atau dituangkan kedalam simbul-simbul auditif (verbal dan/atau non-verbal), yang melibatkan rangsangan indera pendengaran. Secara umum media audio memiliki karakteristik atau ciri sebagai berikut: mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu (mudah dipindahkan dan jangkauannya luas), pesan/program dapat direkam dan diputar kembali sesukanya, dapat mengembangkan daya imajinasi dan merangsang partisipasi aktif pendengarnya, dapat mengatasi masalah kekurangan guru, sifat komunikasinya hanya satu arah, sangat sesuai untuk pengajaran musik dan bahasa, dan pesan/informasi atau program terikat dengan jadwal siaran (pada jenis media radio).
Media proyeksi diam. Beberapa jenis media yang termasuk kelompok ini memerlukan alat bantu (misal proyektor) dalam penyajiannya. Ada kalanya media ini hanya disajikan dengan penampilan visual saja, atau disertai rekaman audio. Karakteristik umum media ini adalah: pesan yang sama dapat disebarkan ke seluruh siswa secara serentak, penyajiannya berada dalam kontrol guru, cara penyimpanannya mudah (praktis), dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan indera, menyajikan obyek -obyek secara diam (pada media dengan penampilan visual saja), terkadang dalam penyajiannya memerlukan ruangan gelap, lebih mahal dari kelompok media grafis, sesuai untuk mengajarkan keterampilan tertentu, sesuai untuk belajar secara berkelompok atau individual, praktis dipergunakan untuk semua ukuran ruangan kelas, mampu menyajikan teori dan praktek secara terpadu, menggunakan teknik-teknik warna, animasi, gerak lambat untuk menampilkan obyek/kejadian tertentu (terutama pada jenis media film), dan media film lebih realistik, dapat diulang-ulang, dihentikan, dsb., sesuai dengan kebutuhan.
Media permainan dan simulasi. Ada beberapa istilah lain untuk kelompok media pembelajaran ini, misalnya simulasi dan permainan peran, atau permainan simulasi. Meskipun berbeda-beda, semuanya dapat dikelompkkan ke dalam satu istilah yaitu permainan (Sadiman, 1990). Ciri atau karakteristik dari media ini adalah: melibatkan pebelajar secara aktif dalam proses belajar, peran pengajar tidak begitu kelihatan tetapi yang menonjol adalah aktivitas interaksi antar pebelajar, dapat memberikan umpan balik langsung, memungkinkan penerapan konsep-konsep atau peran-peran ke dalam situasi nyata di masyarakat, memiliki sifat luwes karena dapat dipakai untuk berbagai tujuan pembelajaran dengan mengubah alat dan persoalannya sedikit saja, mampu meningkatkan kemampuan komunikatif pebelajar, mampu mengatasi keterbatasan pebelajar yang sulit belajar dengan metode tradisional, dan dalam penyajiannya mudah dibuat serta dipelajari.



Senin, 24 Oktober 2016

komunikasi pembelajaran



Minggu, 23 Oktober 2016

media dan teknologi pembelajaran

BAB I
PENDAHULUAN
1.     LATAR BELAKANG
Pendidikan mempunyai peran yang sangat penting dalam perkembangan dan kelangsungan hidup bangsa. Personil yang berhubungan langsung dengan tugas penyelenggaraan pendidikan adalah kepala sekolahdan guru. Dalam pelaksanaan fungsi dan tugasnya, guru sebagai profesi yang menyandang persyaratan tertentu Guru harus memiliki empat syarat yang harus dikuasai yaitu penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya, disamping itu guru harus merupakan pribadi yang berkembang dan bersifat dinamis.
Perubahan paradigma pola mengajar guru yang pada mulanya sebagai sumber informasi bagi siswa dan selalu mendominasi kegiatan dalam kelas berubah menuju paradigma yang memposisikan guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran dan selalu terjadi interaksi antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa dalam kelas. Kenyataan ini mengharuskan guru untuk selalu meningkatkan kemampuannya terutama memberikan keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Guru merupakan salah satu faktor penentu tinggi rendahnya mutu hasil pendidikan, maka setiap usaha peningkatan mutu pendidikan perlu memberikan perhatian besar kepada peningkatan kinerja guru. Guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Untuk meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan.
Secara umum mutu pendidikan yang baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru. Akan tetapi dewasa ini banyak terjadi kepincangan pada sistem pendidikan, disebabkan pelaksanaan asas pendidikan yang kurang sempurna.
Melihat fenomena di atas dan mengingat betapa pentingnya proses pendidikan untuk mencapai pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, maka disini kami tuiskan Konsep Dasar Pendekatan, Teori dan Media Pembelajaran, yang bisa digunakan untuk bahan pertimbangan dalam pembelajaran.
2.     RUMUSAN MASALAH
1.   Bagaimana konsep dasar pendekatan pembelajaran?
2.   Bagaimana teori pembelajaran?
3.   Bagaimana media pembelajaran?
3.      TUJUAN
1.   Menjelaskan konsep dasar pendekatan pembelajaran
2.   Menjelaskan teori pembelajaran
3.   Menjelaskan media pembelajaran


BAB II
PEMBAHASAN
A.     KONSEP DASAR PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Pendekatan (approach) pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru agar konsep yang disajikan bisa diterima siswa. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan juga sebagai titik tolak kita terhadap proses pembelajaran yang melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, bukan  sembarangan yang bisa merugikan anak didik. Pandangan guru terhadap anak didik akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai anak didik. Hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.
Fungsi dari pendekatan bagi suatu pembelajaran adalah :
1.         Sebagai pedoman umum dalam menyusun langkah-langkah metode   pembelajaran yang akan digunakan.
2.         Memberikan garis-garis rujukan untuk perancangan pembelajaran.
3.         Menilai hasil-hasil pembelajaran yang telah dicapai.
4.         Mengetahui masalah-masalah belajar  yang timbul.
Pada kurikulum 2013 lebih menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan:
          I.          Pendekatan pembelajaran Saintifik
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar  peserta didik secara aktif mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang “ditemukan”.
Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami  berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru, oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan diarahkan untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber  melalui observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan, dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan, akan tetapi bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas siswa.
         II.          Pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.     berpusat pada siswa.
b.     melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep,   hukum atau prinsip.
c.      melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang      perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
d.     dapat mengembangkan karakter siswa.
        III.          Kriteria Pendekatan Saintifik
1.     Materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.
2.     Penjelasan guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru-siswa terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.
3.     Mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran.
4.     Mendorong dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan, dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
5.     Mendorong dan menginspirasi siswa mampu memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6.     Berbasis pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
7.     Tujuan pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, namun menarik sistem penyajiannya.
B.    TEORI PEMBELAJARAN
Teori pembelajaran merupakan penerapan prinsip-prinsip teori belajar, teori tingkah laku, dan prinsip-prinsip pembelajaran dalam usaha mencapai tujuan belajar. Dimana prinsip-prinsip itu dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah praktis di dalam pembelajaran, dan bagaimana menangani situasi praktis yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari.
Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar yaitu: teori belajar behaviorisme,  teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme. Dari ketiga teori tersebut penjelasannya sebagai berikut:
1)        Teori belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2)        Teori  Belajar kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif  ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3)        Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata, dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
C.    MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran / pelatihan.
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. 
1.      Manfaat Media Pembelajaran
Secara umum, manfaat media dalam proses pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga pembelajaran akan lebih efektif dan efisien.  Tetapi secara lebih khusus ada beberapa manfaat media yang lebih rinci Kemp dan Dayton (1985) misalnya, mengidentifikasi beberapa manfaat media dalam pembelajaran yaitu :
a.         Penyampaian materi pelajaran dapat diseragamkan.
b.         Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik.
c.         Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif.
d.         Efisiensi dalam waktu dan tenaga.         
e.         Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.
f.          Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.
g.         Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar.
h.        Merubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.
2.      Pertimbangan Pemilihan Media
 Pertimbangan media yang akan digunakan dalam pembelajaran menjadi pertimbangan utama, karena media yang dipilih harus sesuai dengan:
a.         tujuan pengajaran
b.         bahan pelajaran
c.         metode mengajar
d.         alat yang dibutuhkan
e.         pribadi mengajar
f.          minat dan kemampuan mengajar
g.         situasi pengajaran yang sedang berlangsung
Keterkaiatan antara  media pembelajaran dengan tujuan, materi, metode, dan kondisi pembelajar, harus menjadi perhatian dan pertimbangan pengajar untuk memilih dan menggunakan media dalam proses pembelajaran dikelas, sehingga media yang digunakan lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Sebab media pembelajaran tidak dapat berdiri sendiri, tetapi terkait dan memiliki hubungan secara timbal balik dengan  empat aspek tersebut. Dengan demikian, alat-alat, sarana, atau media pembelajaran yang digunakan harus disesuaikan dengan empat aspek tersebut, untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
3.      Macam-macam media pembelajaran
a.         Media Visual : grafik, diagram, chart, bagan, poster, kartun, komik
b.         Media Audial : radio, tape recorder, laboratorium bahasa, dan sejenisnya
c.         Projected still media : slide; over head projektor (OHP), in focus dan  sejenisnya
d.         Projected motion media : film, televisi, video (VCD, DVD, VTR), komputer dan sejenisnya.
Pada hakikatnya bukan media pembelajaran itu sendiri yang  menentukan hasil  belajar. Ternyata keberhasilan menggunakan media pembelajaran dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar tergantung pada (1) isi pesan, (2) cara menjelaskan pesan, dan (3) karakteristik penerima pesan. Dengan demikian dalam memilih dan menggunakan media, perlu diperhatikan  ketiga faktor tersebut. Apabila ketiga faktor tersebut mampu disampaikan dalam media pembelajaran tentunya akan memberikan hasil yang maksimal.


BAB III
KESIMPULAN
Pendekatan pembelajaran adalah cara yang ditempuh guru agar konsep yang disajikan bisa diterima siswa. Pendekatan pembelajaran dapat diartikan juga sebagai titik tolak kita terhadap proses pembelajaran yang melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.
Teori pembelajaran merupakan penerapan prinsip-prinsip teori belajar, teori tingkah laku, dan prinsip-prinsip pembelajaran dalam usaha mencapai tujuan belajar. Dimana prinsip-prinsip itu dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah praktis di dalam pembelajaran, dan bagaimana menangani situasi praktis yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari.
Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar yaitu: teori belajar behaviorisme,  teori belajar kognitivisme, dan  teori belajar konstruktivisme.
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar  sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.


DAFTAR PUSTAKA